Semerbak Kopi Jujur, Kopi Asli Tanpa Campuran Essen

Kopi Jujur, Kopi Asli Tanpa Campuran Essen | Siapa yang tidak mengenal kopi? Biji tanaman yang satu ini sudah sangat popular di berbagai kalangan, bahkan sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang. Aroma kopi yang semerbak dapat menenangkan jiwa menjadi satu alasan kenapa kopi selalu menjadi minuman favorit banyak orang.

Kopi adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia karena cita rasa dan aromanya. Manfaat kopi bagi kesehatan sangat banyak, baik kopi hitam ataupun kopi hijau yang belakangan ini populer.

Khasiat kopi di antaranya menurunkan resiko terserang penyakit kanker, batu empedu, diabetes, dan penyakit jantung lainnya.

Di negara Indonesia mampu memproduksi kurang lebih 400.000 ton jenis kopi pertahunnya yang kemudian akan di eksport di berbagai wilayah. Di beberapa daerah di Indonesia, mengkonsumsi kopi menjadi kebiasaan dan budaya.

Pengertian Kopi dan Awal Mula Sejarah kopi

Kopi merupakan minuman yang melalui proses pengolahan serta ekstraksi biji kopi hasil seduhan biji kopi yang telah di proses menjadi bubuk kopi dan dilarutkan dengan air panas.

Kata kopi ini sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab yaitu qahwah yang mempunyai arti kekuatan, karena pada awal ditemukannya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi.
Kata qahwah kemudian diubah menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian diubah lagi menjadi koffie. Dalam bahasa Belanda yaitu “koffee” sedangkan dalam Bahasa Indonesia yaitu “kopi”.

Sejarah Kopi

penemuan biji kopi sebagai minuman yang sangat berkhasiat dan berenergi. Kopi pertama kali ditemukan oleh Orang dari Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun yang lalu atau 1000 tahun Sebelum Masehi. Kopi terus berkembang hingga sekarang ini menjadi salah satu minuman paling populer dan terlaris di dunia.

Berbagai literatur mencatat tanaman kopi berasal dari Abyssinia,4 nama daerah lawas di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan Eritrea. Namun tidak banyak diketahui bagaimana orang-orang Abyssinia memanfaatkan tanaman kopi. Kopi sebagai minuman pertama kali dipopulerkan oleh orang-orang Arab. Biji kopi dari Abyssinia dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman dan mulai menjadi komoditas komersial.

Di masa awal, bangsa Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat pelabuhan Mocha, sebuah kota yang terletak di Yaman. Dari pelabuhan Mocha biji kopi diperdagangkan hingga ke Eropa. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi, sampai-sampai orang Eropa menyebut kopi sebagai Mocha.

Memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Pertama-tama nereka mengembangkannya di Eropa, namun iklim di sana tidak cocok untuk tanaman kopi. Kemudian mereka mencoba membudidayakan tanaman tersebut di daerah jajahannya yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Upayanya berhasil, orang-orang Eropa mampu menggeser dominasi bangsa Arab dalam memproduksi kopi.

Sejarah kopi di Indonesia

Sejarah kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun upaya ini gagal kerena tanaman tersebut rusak oleh gempa bumi dan banjir.

Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik.

Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Ada tiga daerah utama di Indonesia yang menghasilkan kopi; Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Jawa merupakan daerah terbesar dalam hal produksi kopi. Jawa terkenal dengan kopi Arabikanya yang bercita rasa tinggi.

Selain itu Jawa juga terkenal menghasilkan salah satu kopi tertua terbaik di dunia yaitu Old Java. Bahkan karena pernah memonopoli pasar kopi dunia, ‘Java’dijadikan istilah pengganti kata ‘kopi’ di luar sana. Biji kopi dari daerah ini dapat disimpan dalam gudang selama dua sampai tiga tahun. Hal ini akan menambah kepekatan rasa yang kuat seperti karakteristik kopi Arabika.

Tanaman Kopi dibawa masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda, yang berhasil membuat Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi utama di dunia hingga kini. Namun akibat arus globalisasi dan kapitalisme Belanda yang diterima Indonesia, budaya kopi Indonesia hanya menjadi bagian dari keseharian dan tidak banyak diapresiasi masyarakat lokal.

 

Kopi dan Kearifan Lokal  Budaya Indonesia

Sejak lama kopi dipahami masyarakat Indonesia sebagai tanaman komoditas belaka, karena kopi telah menjadi tanaman yang menjadi tulang punggung bagi ribuan hingga jutaan masyarakat Indonesia. Hasil Kopi Indonesia memang telah terkenal di seluruh dunia.

Ada tiga daerah utama di Indonesia yang menghasilkan kopi; Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Jawa merupakan daerah terbesar dalam hal produksi kopi. Jawa terkenal dengan kopi Arabikanya yang bercita rasa tinggi. Selain itu Jawa juga terkenal menghasilkan salah satu kopi tertua terbaik di dunia yaitu Old Java.

Bahkan karena pernah memonopoli pasar kopi dunia, ‘Java’dijadikan istilah pengganti kata ‘kopi’ di luar sana. Biji kopi dari daerah ini dapat disimpan dalam gudang selama dua sampai tiga tahun. Hal ini akan menambah kepekatan rasa yang kuat seperti karakteristik kopi Arabika.

Namun tidak hanya komoditas kopi yang besar lebih  dari itu kopi telah menjadi bagian dari kearifan lokal dan budaya negeri ini.

Sungguh sangat disayangkan bila keunikan kopi Indonesia yang sudah mendunia ini tidak diketahui masyarakat Indonesia sendiri. Kajian ini berusaha untuk mengenalkan budaya kopi Indonesia, sehingga masyarakat awam dapat lebih mengapresiasinya.

Budaya Ngopi Di Indonesia

Budaya kopi yang ada di Indonesia mendapatkan banyak pengaruh dari Eropa, Cina, Melayu, dan budaya lokal (seperti Jawa, Medan, dan lain-lain); baik dalam hal pengolahan maupun dalam penyajian. Orang Indonesia merupakan orang yang terbuka dan mampu beradaptasi dengan baik dengan budaya-budaya baru khususnya yang menjadi trend di luar negeri.

Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya café di kota-kota besar yang ada. Tingkat konsumerisme bangsa Indonesia juga nggi. Warung kopi merupakan wujud pluralisme dan kesatuan bangsa Indonesia, dimana semua etnis dari berbagai macam latar belakang budaya dapat duduk dan menikmati kopi bersama.

Kopi Dalam Adat dan Ritual

Selain sebagai minuman pendamping saat bersosialisasi, kopi rupanya memiliki peran tersendiri dalam ritual adat di beberapa tempat di Indonesia, khususnya di Jawa. Salah satu ritual yang dilakukan di Keraton Solo yang dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis adalah memberikan sesajen pada Kyai Petruk untuk melindungi ruang makan di Keraton. Sesajen ini terdiri dari kelopak mawar putih, dupa, teh, dan kopi. Kopi dalam hal ini dipercaya sebagai minuman para dewa, yang digunakan untuk memberikan pencerahan dan koneksi pada dunia spiritual.

Selain itu Kopi juga memegang peranan penting dalam ritual lain. Selama perayaan tahun baru Jawa (Kirab Pusaka), Kerbau yang dikeramatkan diberi makan pisang dan kopi sebelum perayaan dimulai. Dulunya Ritual ini hanya dilakukan bila terjadi suatu masalah besar yang menimpa masyarakat; namun semenjak Presiden Suharto memerintah, beliau membuat peraturan untuk melakukan ritual ini setiap tahun

Kopi Dalam Sosial Budaya Indonesia

Menikmati kopi di Indonesia sifatnya kasual dan sosial. Orang dapat menikmati kopi bersama dalam situasi yang terbuka, hangat dan nyaman tanpa adanya praduga (dalam hal SARA) dari orang lain. Kebanyakan warung kopi bersifat terbuka dengan lingkungan sekitar.

Kebanyakan café yang mengusung specialty coffee Indonesia mengambil gaya yang biasanya membangkitkan kenangan masa lalu (nostalgia), banyak dekorasi tradisional khas Indonesia dan kopi jaman dahulu yang diaplikasikan dalam interiornya.

Tidak ada waktu khusus untuk menikmati kopi di Indonesia, kopi dapat dinikmati di pagi hari sebagai sarapan, di siang hari sebagai penutup makanan, di sore hari sebagai pelepas penat kerja, bahkan banyak warung kopi yang baru membuka usahanya malam hari dimana kopi dihidangkan sebagai teman menikmati malam. Kopi juga dapat dinikmati saat memerlukan tenaga dan konsentrasi ekstra seperti berkendara jarak jauh.